"As time goes on, you'll understand. What lasts, lasts; what doesn't, doesn't.
Time solves most things. And what time can't solve, you have to solve yourself."
Waktu adalah guru yang terbaik, dia mengajarkan kita dengan caranya sendiri. Kadang mudah bagi kita untuk menilai sesuatu, tetapi nyatanya tidak begitu. Menilai memang selalu mudah, berbeda jika kita menghadapinya langsung.
Kemaren aku ketemu teman, K. Dia lelaki yang beberapa saat lalu aku dengar akan segera menikah. Kami tak terlalu akrab, hanya bertemu beberapa kali, bbm-an sesekali, bertemu dan curhat bukan hal biasa yang dilakukan.
Tetapi hari itu berbeda, dia bilang dia mungkin tak jadi menikah, kebersamaan mereka selama 7 tahun tak lantas membuatnya dengan mulus akan mendapatkan restu dari orangtua sang wanita. Ayah si perempuan tak mau mempercayakan anak gadisnya ke sembarang orang. Entah apa yang menjadi kekurangannya. Dia hanya tak mendapatkan gadisnya.
Dan temanku itu, teman lelakiku itu dia memutuskan untuk berhenti berjuang. 7 tahun adalah angka yang cukup untuknya bertarung dengan waktu. Dia melepaskan. Dia membebaskan.
Mungkin awalnya sudah salah, K. Iya, mungkin sejak awal caranya sudah salah.
Dari kejauhan, sepoi-sepoi, masih terngiang ucapannya dahulu,
"Lalu, kamu berhenti berjuang?"
Dan temanku itu, teman lelakiku itu dia memutuskan untuk berhenti berjuang. 7 tahun adalah angka yang cukup untuknya bertarung dengan waktu. Dia melepaskan. Dia membebaskan.
Mungkin awalnya sudah salah, K. Iya, mungkin sejak awal caranya sudah salah.
Dari kejauhan, sepoi-sepoi, masih terngiang ucapannya dahulu,
"Lalu, kamu berhenti berjuang?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar